TUNAS TIGA WINDU PURNAMA

Hujan malam ini berhasil menyemai benih-benih rindu yang telah lama kukubur. Tunas-tunas berebut mencuat memenuhi rongga hati. Sial! Aku harus bekerja keras lagi untuk mencabutinya. Sebelum akar-akarnya bercokol erat disana. Entah sampai kapan begini terus.

Tak ada jeranya dia terus tumbuh coba menerobos pertahananku. Lama-lama pagar hatiku bisa jebol kalau terus begini. Ini sudah purnama yang ke tiga windu. Harus berapa lama lagi agar benih itu habis tak bersisa, keluhku.

Akhirnya kusebar benih baru disitu. Iapun tumbuh dengan suburnya. Betapa kusayangi dan kumanjakan dia. Aku lupa pada benih lama. Entahkah masih tersisa?

Benih baruku tumbuh berbunga nan cantik. Daunnya lebar, bunganya terang. Bermandikan cahaya matahari dan air mata langit membuatnya makin kokoh. Aku sangat bahagia.

Dan tiba-tiba pada suatu masa, tumbuh sebuah tunas baru. Terhimpit. Coba menyeruak di antara kokohnya pohon cinta. Tunas dari benih yang ternyata tak pernah bisa terlupa. Benih rindu tak pernah menyerah menunggu masih tersisa disana.***

TUNAS

Leave a Reply